Perjalanan menuju
ke Bayah bukanlah hal yang mudah. Meskipun telah memiliki jalan utama, tetapi
jalan tersebut berlubang dan rusak cukup parah. Well, I sat in the back seat
and you can imagine how bad it was for my stomatch.
After almost 8
hours journey, we've finally arrived at a place that I (we) have never been
here before. Bus yang kita gunakan berhenti di depan gang karena gang yang akan
kita lewati kurang besahabat dengan bus, it's too small. So, it means kita
harus berjalan keatas untuk menuju ke lokasi kita akan tinggal untuk 4 hari ke
depan. Lokasi charity kali ini memang sedikit berbeda dengan lokasi charity di
tahun sebelumnya. Kita perlu berjalan kurang lebih 15 menit dengan medan yang
naik-turun untuk sampai di tempat kita akan menginap. Anyway, kita menginap di sebuah yayasan (pondon pesantren) Al -
Amin. Awalnya aku berpikir bahwa tempat ini akan terlalu mewah untuk charity, well, we met the owner of the school in
the first place to asked the permission, the owner's of the foundation house is
huge for people who live in this place. But after that, I just found out that
we still need to walk to get to the place that we gonna use to doing our
project. In the first night, we stayed at the classrooms in Al-Amin and we
gonna had an opening ceremony in the next day. Since, I had to stay at Al-Amin
due to cooking, so I didn't join the opening ceremony. We spent our days like
what we did in the past charity. Ada beberapa program yang akan kita laksanakan
di sini, bersama para warga, seperti mengajar anak-anak, penyuluhan,
lomba-lomba, dll.
Di hari ke-3, Rabu,
3 Juli 2013, aku beserta keempat rekanku (Swa, Silvi, Ihsan dan Nisa)
mendapatkan giliran mengajar anak-anak di Kampung Sawah. Untuk pertama kalinya
aku menuju tempat yang akan kita gunakan untuk melaksanakan semua program yang
telah kita buat, termasuk mengajar. Perjalanan menuju Kampung Sawah (dari
Al-Amin) memakan waktu kurang lebih 15 menit dengan berjalan kaki, masih dengan
medan yang sama, naik-turun. Tapi perjalanan itu worth it ketika kami bertatap muka dengan anak-anak Kampung Sawah.
Pagi itu mereka terlihat sangat bersemangat bahkan mereka datang lebih awal
dari kami (we woke up late). Kami mengajar beberapa mata pelajaran yang akan
dijadikan materi lomba cerdas cermat di keesokkan harinya, seperti Matematika,
Bahasa Inggris, IPA, IPS dan PKN. Aku bertugas untuk mengenalkan IT kepada anak-anak
tersebut plus mengajar Matematika dan IPA. Nisa mengajar Bahasa Inggris, Ihsan
mengajar PKN, Swa mengajar IPS & Silvi mengajarkan anak-anak bernyanyi.
Ketika aku mulai
membuka netbook yang kami bawa dan berkata "hari ini kita belajar komputer
ya!", wajah mereka terlihat sangat antusias. Aku kenalkan mereka beberapa
fungsi komputer secara umum dan mengajarkan mereka sedikit tentang bagaimana
menggunakan Microsoft Word. I asked them to type their name, change the colour
and the size of the font. I could tell they were beyond excited as I was. I was
truly excited by looking at their eyes. The sparks on their eyes showed me
their full excitement which somehow gave me a new spirit. I just met them once and I'm already in love!
Selain mengajarkan
anak-anak komputer, aku mendapatkan bagian untuk mengajar IPA & Matematika.
Don't you know, I was rubbish at Math! HA! Luckily, materi yang diajarkan pada
anak-anak kali ini adalah soal pembagian.
Aku mengajarkan pembagian mulai dari bilangan satuan hingga puluhan,
tapi aku membatasi sampai 20. Aku berusaha mengajarkan sejelas mungkin kepada
mereka tentang pembagian, but it was not easy as I thought. Language was become
one of the problem I had to deal with. I can't speak Sundanesse and some of the
children were a bit harder to understand Indonesian, so I need a translator to
deliver to the children of what I mean. In this group of children, there is a
boy named Restu. Bisa dibilang Restu adalah anak yang pintar, dia bisa menyerap
dengan cepat apa yang baru saja diajarkan. Apabila diberikan soal, ia merupakan
satu-satunya anak yang menjawab dengan cepat dan benar. Dia sama saja seperti
anak-anak lainnya, aktif, banyak tingkah, namun ia memiliki daya tangkap yang
sedikit lebih baik diatas teman-temannya. Ketika sedang break mengajar, aku sengaja memperlihatkan sebuah video yang berisi
tentang keadaan kampus dimana aku dan teman-temanku belajar saat ini, Untirta.
Lalu aku berkata kepada anak-anak tersebut, "nanti kalau sudah besar,
kalian belajar disini yaa! Biar kita
bisa ketemu lagi", secara spontan Restu menjawab, "Gak punya duit,
Bu!", kemudian aku hanya bisa tersenyum. Aku merespon penyataan Restu,
"Kalau kalian belajar yang rajin, kalian bisa saja kuliah disana
gratis". Pernyataan Restu tadi sempat menyadarkanku tentang bagaimana
minimnya pendidikan di negeri ini karena masalah ekonomi. Banyak anak-anak
seusia Restu yang harus mengalah pada keadaan dan mengorbankan pendidikan
mereka untuk bekerja. Aku berharap, kelak anak sepintar Restu dan anak-anak
pintar lainnya bisa menjadi orang hebat di negeri ini.
Another interesting
thing was, when there were 3 young girls came to the mosque. My friends and I
had no idea what kind of thing that we should teach to the three of them. I
mean, we just prepared the materials for the kids who are in the elementary
school and those three girls apparently were just graduated from Junior high
school. Then, Swa told me that they came here just because they know that we
taught the children how to use computer and those three girls would love to
join as well, learnt how to use computer. Ketika anak-anak sedang belajar
bahasa Inggris, saya diminta Swa untuk mengajarkan ketiga remaja putri itu
belajar komputer and I don't mind at all. I asked them "have you ever
learned how to use computer before?" - kind of question and they only
smiled shyly and shrugged "Just a bit, there is no computer for students
in our school" they answered. I concluded that they only know this is
computer/laptop, but they don't know how to use it properly. Aku mengajarkan
ketiga gadis ini bagaimana cara menggunakan komputer. Simply thing, aku meminta
mereka untuk membuat mini CV mereka menggunakan Microsoft Word, namun mereka
justru terdiam dan malu-malu. Setelah ketiga kalinya aku meminta mereka mengetikkan
data diri mereka, barulah mereka mulai mengetik. Jemari mereka memang terlihat
sangat kaku di atas keyboard. Mereka mengatakan bahwa di sekolah mereka memang
ada pelajaran komputer, tapi tidak pernah diajarkan karena tidak adanya
fasilitas yang mendukung.
Keesokkan harinya,
kegiatan kami hanyalah mengadakan lomba untuk ibu-ibu dan anak-anak, seperti
lomba futsal, makan kerupuk, lomba balap karung dan sebagainya. It was really
nice to see the excitement on their face. Kami (ESA) hanya mengadakan kegiatan
inti selama 3 hari, it was not enough actually. I'd love to spend more days
there, but we have another things to do in campus. In the end of our last day
there, there was a kid asked me, "Bu, ibu kapan kesini lagi?" , well
actually I'd love to be back there as many as possible, tapi mengingat jarak
tempuh yang cukup jauh dan kondisi jalan yang kurang bersahabat, kami tidak
akan bisa sering-sering mengunjungi mereka, eventhough I really love to! Lalu kemudian anak itu bertanya lagi,
"bu, rumah ibu dimana?" , "Tangerang" aku menjawab.
"Deket Jakarta ya, Bu? Nanti aku mau main kerumah ibu ah! Terus nanti kita
ke Carefour, main mobil-mobilan" I laughed at this statement. This kid have
no idea how people love to visit their place and he just want to go to a
Carefour to play instead. Spent 4 days
in this villages give me another perspective of life. Kids in villages have
those kind of spirit to learn eventhough they have lack of facilities, whilst
people in the city have many good facilities to learn, but they have lack of
spirit to learn. The thing is, we have to be more grateful of all the things
that God has given to us.
Ps : I met a boy
who has Arabic appearance, named Danu. But I rather call him Zayn :p
Love,
Athe
xx
![]() |
| Zayn Malik-nya Athe :D |
| the boy in blue is Restu |

0 comments:
Post a Comment