Saturday, 13 July 2013

Catatan Kecil ESA Charity 2013

       Pagi itu, Senin, 1 Juli 2013, English Students Association (ESA) telah bersiap untuk melaksanakan program kerja tahunannya, ESA Care for Charity. Tidak berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya, ESA Care for Charity 2013 akan diadakan di sebuah desa yang terbilang masih kurang berkembang, terutama dalam bidang pendidikan. Lokasi ESA Charity kali ini bertempat di Kampung Sawah, Bayah - Banten.
     Perjalanan menuju ke Bayah bukanlah hal yang mudah. Meskipun telah memiliki jalan utama, tetapi jalan tersebut berlubang dan rusak cukup parah. Well, I sat in the back seat and you can imagine how bad it was for my stomatch.
      After almost 8 hours journey, we've finally arrived at a place that I (we) have never been here before. Bus yang kita gunakan berhenti di depan gang karena gang yang akan kita lewati kurang besahabat dengan bus, it's too small. So, it means kita harus berjalan keatas untuk menuju ke lokasi kita akan tinggal untuk 4 hari ke depan. Lokasi charity kali ini memang sedikit berbeda dengan lokasi charity di tahun sebelumnya. Kita perlu berjalan kurang lebih 15 menit dengan medan yang naik-turun untuk sampai di tempat kita akan menginap. Anyway, kita menginap di sebuah yayasan (pondon pesantren) Al - Amin. Awalnya aku berpikir bahwa tempat ini akan terlalu mewah untuk charity, well, we met the owner of the school in the first place to asked the permission, the owner's of the foundation house is huge for people who live in this place. But after that, I just found out that we still need to walk to get to the place that we gonna use to doing our project. In the first night, we stayed at the classrooms in Al-Amin and we gonna had an opening ceremony in the next day. Since, I had to stay at Al-Amin due to cooking, so I didn't join the opening ceremony. We spent our days like what we did in the past charity. Ada beberapa program yang akan kita laksanakan di sini, bersama para warga, seperti mengajar anak-anak, penyuluhan, lomba-lomba, dll.
      Di hari ke-3, Rabu, 3 Juli 2013, aku beserta keempat rekanku (Swa, Silvi, Ihsan dan Nisa) mendapatkan giliran mengajar anak-anak di Kampung Sawah. Untuk pertama kalinya aku menuju tempat yang akan kita gunakan untuk melaksanakan semua program yang telah kita buat, termasuk mengajar. Perjalanan menuju Kampung Sawah (dari Al-Amin) memakan waktu kurang lebih 15 menit dengan berjalan kaki, masih dengan medan yang sama, naik-turun. Tapi perjalanan itu worth it ketika kami bertatap muka dengan anak-anak Kampung Sawah. Pagi itu mereka terlihat sangat bersemangat bahkan mereka datang lebih awal dari kami (we woke up late). Kami mengajar beberapa mata pelajaran yang akan dijadikan materi lomba cerdas cermat di keesokkan harinya, seperti Matematika, Bahasa Inggris, IPA, IPS dan PKN. Aku bertugas untuk mengenalkan IT kepada anak-anak tersebut plus mengajar Matematika dan IPA. Nisa mengajar Bahasa Inggris, Ihsan mengajar PKN, Swa mengajar IPS & Silvi mengajarkan anak-anak bernyanyi.
Ketika aku mulai membuka netbook yang kami bawa dan berkata "hari ini kita belajar komputer ya!", wajah mereka terlihat sangat antusias. Aku kenalkan mereka beberapa fungsi komputer secara umum dan mengajarkan mereka sedikit tentang bagaimana menggunakan Microsoft Word. I asked them to type their name, change the colour and the size of the font. I could tell they were beyond excited as I was. I was truly excited by looking at their eyes. The sparks on their eyes showed me their full excitement which somehow gave me a new spirit.  I just met them once and I'm already in love!
      Selain mengajarkan anak-anak komputer, aku mendapatkan bagian untuk mengajar IPA & Matematika. Don't you know, I was rubbish at Math! HA! Luckily, materi yang diajarkan pada anak-anak kali ini adalah soal pembagian.  Aku mengajarkan pembagian mulai dari bilangan satuan hingga puluhan, tapi aku membatasi sampai 20. Aku berusaha mengajarkan sejelas mungkin kepada mereka tentang pembagian, but it was not easy as I thought. Language was become one of the problem I had to deal with. I can't speak Sundanesse and some of the children were a bit harder to understand Indonesian, so I need a translator to deliver to the children of what I mean. In this group of children, there is a boy named Restu. Bisa dibilang Restu adalah anak yang pintar, dia bisa menyerap dengan cepat apa yang baru saja diajarkan. Apabila diberikan soal, ia merupakan satu-satunya anak yang menjawab dengan cepat dan benar. Dia sama saja seperti anak-anak lainnya, aktif, banyak tingkah, namun ia memiliki daya tangkap yang sedikit lebih baik diatas teman-temannya. Ketika sedang break mengajar, aku sengaja memperlihatkan sebuah video yang berisi tentang keadaan kampus dimana aku dan teman-temanku belajar saat ini, Untirta. Lalu aku berkata kepada anak-anak tersebut, "nanti kalau sudah besar, kalian belajar disini  yaa! Biar kita bisa ketemu lagi", secara spontan Restu menjawab, "Gak punya duit, Bu!", kemudian aku hanya bisa tersenyum. Aku merespon penyataan Restu, "Kalau kalian belajar yang rajin, kalian bisa saja kuliah disana gratis". Pernyataan Restu tadi sempat menyadarkanku tentang bagaimana minimnya pendidikan di negeri ini karena masalah ekonomi. Banyak anak-anak seusia Restu yang harus mengalah pada keadaan dan mengorbankan pendidikan mereka untuk bekerja. Aku berharap, kelak anak sepintar Restu dan anak-anak pintar lainnya bisa menjadi orang hebat di negeri ini.
      Another interesting thing was, when there were 3 young girls came to the mosque. My friends and I had no idea what kind of thing that we should teach to the three of them. I mean, we just prepared the materials for the kids who are in the elementary school and those three girls apparently were just graduated from Junior high school. Then, Swa told me that they came here just because they know that we taught the children how to use computer and those three girls would love to join as well, learnt how to use computer. Ketika anak-anak sedang belajar bahasa Inggris, saya diminta Swa untuk mengajarkan ketiga remaja putri itu belajar komputer and I don't mind at all. I asked them "have you ever learned how to use computer before?" - kind of question and they only smiled shyly and shrugged "Just a bit, there is no computer for students in our school" they answered. I concluded that they only know this is computer/laptop, but they don't know how to use it properly. Aku mengajarkan ketiga gadis ini bagaimana cara menggunakan komputer. Simply thing, aku meminta mereka untuk membuat mini CV mereka menggunakan Microsoft Word, namun mereka justru terdiam dan malu-malu. Setelah ketiga kalinya aku meminta mereka mengetikkan data diri mereka, barulah mereka mulai mengetik. Jemari mereka memang terlihat sangat kaku di atas keyboard. Mereka mengatakan bahwa di sekolah mereka memang ada pelajaran komputer, tapi tidak pernah diajarkan karena tidak adanya fasilitas yang mendukung.
      Keesokkan harinya, kegiatan kami hanyalah mengadakan lomba untuk ibu-ibu dan anak-anak, seperti lomba futsal, makan kerupuk, lomba balap karung dan sebagainya. It was really nice to see the excitement on their face. Kami (ESA) hanya mengadakan kegiatan inti selama 3 hari, it was not enough actually. I'd love to spend more days there, but we have another things to do in campus. In the end of our last day there, there was a kid asked me, "Bu, ibu kapan kesini lagi?" , well actually I'd love to be back there as many as possible, tapi mengingat jarak tempuh yang cukup jauh dan kondisi jalan yang kurang bersahabat, kami tidak akan bisa sering-sering mengunjungi mereka, eventhough I really love to!  Lalu kemudian anak itu bertanya lagi, "bu, rumah ibu dimana?" , "Tangerang" aku menjawab. "Deket Jakarta ya, Bu? Nanti aku mau main kerumah ibu ah! Terus nanti kita ke Carefour, main mobil-mobilan" I laughed at this statement. This kid have no idea how people love to visit their place and he just want to go to a Carefour to play instead.  Spent 4 days in this villages give me another perspective of life. Kids in villages have those kind of spirit to learn eventhough they have lack of facilities, whilst people in the city have many good facilities to learn, but they have lack of spirit to learn. The thing is, we have to be more grateful of all the things that God has given to us.

Ps : I met a boy who has Arabic appearance, named Danu. But I rather call him Zayn :p

Love,
Athe
xx


Zayn Malik-nya Athe :D

the boy in blue is Restu










0 comments:

Post a Comment