Huh, I think that it’s not important to share but I don’t know with who I am suppose to share. It been so long , almost a year ago. But I still remember it clearly. I tried to remember when I was fallin’ in love with you, but I forgot . Karena semua perasaanku mengalir begitu saja, entah kapan rasa itu mulai ada, akupun tak tau.
Rasa itu tumbuh dan berkembang seperti sekuncup bunga yang sedang mekar. Perasaan itu terus mengalir dan sulit dihentikan. Aku selalu ingat saat kita duduk berdua, bersandar pada sebuah tiang di depan kelas, saat semua penghuni sekolah mulai pergi dan hujan turun dengan derasnya, menahan kita untuk tetap tinggal di sekolah sampai hujan reda. Saat itu kau bercerita banyak tentang hubunganmu dan kekasihmu yang hampir berakhir. Tak banyak yang dapat kukatakan, hanya sedikit nasehat dan sesuntik semangat untuk menentukan keputusan terbaik.
Kejadian itu terus berulang sampai entah berapa bulan. Kau selalu menghampiri kelasku, hanya untuk mengajakku berbicara di depan kelas. Awalnya kau selalu bercerita tentang kekasihmu itu, namun saat hubunganmu dan dia berakhir pembicaraan kita sedikit berubah. Walaupun bagiku intinya tetap sama, yaitu wanita-wanita yang ada dalam hidupmu. Awalnya aku antusias dengan semua cerita tentangmu, tapi aku belum menyadari bahwa aku telah jatuh cinta padamu.
Saat aku mulai menyadari hal itu, terkadang aku bingung apa yang harus aku lakukan saat dia bercerita tentang wanita-wanita itu. Namun aku sadar, yang aku lakukan hanyalah perlu menjadi pendengar yang baik untuknya, entah sampai kapan. Aku selalu mencoba bersikap senormal mungkin. Aku tak ingin dia tahu bahwa aku telah menaruh hati padanya. Aku takut. Entah karena apa, there’re many reasons that I can’t explain about it.
Sampai pada suatu saat dia berkata padaku bahwa dia menyukai seorang wanita, tapi dia tidak ingin memberitahuku. Kau tau apa rasanya ? Pedih . yaa pedih, saat mendengar itu aku langsung izin padanya untuk masuk ke kelas sebentar. Kau tau apa yang kulakukan di dalam kelas saat itu ? Aku menyandarkan dadaku di atas meja dan menggerak-gerakkan meja itu. Aku ingin menangis, tapi aku tak ingin menangis di tempat itu.
Kau tau apa yang selalu membuatku merasa kalut ? Aku merasa bahwa kau memberi perhatian padaku, tapi aku tak tau apa maksudnya itu. Tapi di sisi lain kau sering membicarakan banyak wanita padaku. Aku tak mengerti arti dari semua ini. Aku jatuh cinta padamu, kau memberikan perhatian padaku, tapi kau membicarakan wanita lain padaku. Aku mencoba bertahan dengan semua keadaan sulit ini. Kau sahabatku dan aku jatuh cinta padamu, hey boy , isn’t easy as you think .
Setelah waktu berjalan sekian lama, kita masih sering melakukan hal yang sama. Kau menghampiriku saat jam istirahat pertama, duduk di depan kelas sambil ngobrol dan makan . kau menghampiriku saat jam istirahat kedua, kau shalat dan aku menunggu ronde kedua untuk solat karena masjidnya pasti penuh sesak. Selesai salat kau menghampiriku, duduk di depan kelas, ngobrol sampai bel tanda masuk berbunyi. Tapi terkadang, kami tak menghiraukan bel masuk. Kami masuk ke kelas masing-masing apabila salah satu guru di kelas kami telah datang. Jika ada waktu, kami bertemu seusai bel pulang berbunyi. Entah apa maksud ini semua, tapi aku tak pernah bosan untuk bertatap muka dengannya walaupun terkadang itu sangat menyakitiku. Sungguh, tempat duduk depan kelas XII IPA 1 adalah saksi kisahku.
Entah kapan aku mulai menyadari bahwa aku hanya dijadikan tempat sampah yang dipergunakannya untuk menampung seluruh kegalauanya. Aku tak pernah bermasalah dengan itu. Aku hanya ingin ... apa ? entahlah aku tak tau apa yang aku inginkan. Aku ingat, waktu itu dia pernah bilang padaku. “Kenapa? Kamu lagi patah hati ya? Patah hati sama siapa ? sini kasih tau aku, biar aku tonjok orangnya !” . Saat itu aku hanya diam, aku tak tau harus berkata apa. Aku ingin mengatakan bahwa sesungguhnya orang yang membuatku patah hati adalah KAMU . Iya kamu, orang yang selalu duduk di sampingku saat jam istirahat tiba. Entah kenapa tiba-tiba aku mulai menjaga jarak dengannya. Aku mengambil keputusan untuk menjauhinya untuk beberapa waktu. Aku hanya ingin mencoba membatasi perasaanku agar aku tak jatuuh cinta terlalu jauh dan dalam padanya. But, it’s not a good decision. Aku justru merasa semakin sakit, entah kenapa. Keadaan kami sedikit membaik saat aku tak masuk sekolah karena sakit. Kamu tahu, betapa senangnya aku siang itu saat menerima sms dariimu, padahal kau hanya menanyakan kabarku saja, standart. Saat aku sakit diapun melakukan hal yang sama, memberikanku perhatian. Saat aku masuk sekolah, rutinitas antara aku dan dia pun terulang lagi. Duduk di depan kelas, makan dan ngobrol. Namun keadaan itu tak berjalan lama. Aku kembali menjaga jarak dengannya karena ku dengar dari sahabatku bahwa dia sedang ‘pedekate’ dengan adik kelasku. I was broken, seriously. Seingatku, mantan pacarnya tidak suka dengan wanita yang saat ini dekat dengannya. Wanita yang saat ini dekat dengannya adalah adik kelasku, bukan aku. You know what ? mantan kekasihnya pun selalu “curhat” masalahnya denganku. See ? I’m stuck in the middle. You know what I felt ? HURT . seriously, it was hurting me. Ini adalah hal yang melelahkan untukku. Aku yang terus berpura-pura dengan keadaan ini, aku yang selalu berpura-pura bahwa aku baik-baik saja dengan semua ini. Sesungguhnya aku ingin berteriak bahwa aku sudah lelah dengan semua ini . tak adakah seseorang yang dapat memahami perasaanku? Tak adakah sesorang yang mengerti akan sulitnya posisiku ?
Mulai saat itu aku benar-benar jauh darinya. Tidak ada lagi waktu duduk berdua di depan kelas. Tidak akan ada lagi dia yang menghampiriku ke kelas. Tidak ada lagi sms dariinya. Semua tentangnya perlahan mulai menghilang dari kehidupanku. Tapi rasa ini tidak juga hilang. Setiap kali kita bertemu, kita hanya diam, berpandangan sesaat lalu pergi menjauh. Itulah yang terjadi. Tak ada setitik senyum pun terlintas di wajah kita saat itu.
Beberapa minggu setelah itu, aku tau bahwa dia sedang dekat dengan seorang wanita yang seangkatan dengan kami. Keadaanku dan dia sudah mulai membaik walaupun tidak akan pernah sama dengan sebelumnya. Dan beberapa minggu kemudian, aku menerima kabar bahwa dia telah resmi berpacaran dengan wanita itu. Saat itu aku masih merasa biasa saja. Aku belum yakin bahwa mereka telah berpacaran karena aku tak pernah melihat mereka bersama dan dia juga tidak mengatakan apapun padaku. Sampai pada saat aku benar-benar melihat mereka bersama aku baru percaya dan SAKIT. Bagiku hal yang paling menyakitkan adalah kenapa dia tak pernah memberitahuku bahwa dia telah memiliki seorang kekasih lagi. Padahal sebelumnya kami sempat berkirim pesan, tapi aku tak ingin menyinggung hal itu karena aku ingin dia sendiri yang mengatakannya padaku. Tapi sampai detik ini pun dia tak pernah mengatakannya padaku. Aku merasa seperti sebuah tempat sampah untuknya. Semua masalah yang sedang dia hadapi dia selalu ceritakan sedetail mungkin padaku, tapi kenapa saat dia bahagia dia tidak menceritakannya padaku. Aku bahkan mengetahui hal ini dari temanku. Dititik ini aku benar-benar merasa bahwa dia datang saat dia sedang susah tapi menjauh saat dia sedang bahagia. Entahlah apakah ini sebuah arti pertemanan atau bukan. Tapi itulah yang kurasakan.
Saat itu, tanggal 29 Maret 2011, selesai UAS , aku terbaring di rumah sakit. Memang tidak ada yang tahu tentang hal ini, hanya beberapa teman terdekatku saja yang tau. Aku tak pernah berniat memberitahunya. Saat itu, keadaanku dan dia memang sudah membaik, tapi tetap saja berbeda dari sebelumnya. Saat itu aku diharuskan dokter untuk menjalani sebuah operasi. Saat aku terbaring dengan segala infus di tanganku, yang ingin aku dapat hanyalah kesembuhan dan sms darimu. Itulah yang sebenarnya kuharapkan. Tapi sampai aku keluar dari rumah sakit tak ada satu sms pun darimu. Aku hanya menerima ucapan “semoga cepat sembuh ya teman” darinya lewat facebook. Aku menghargai itu, tapi itu bukan yang kuharapkan. Namun aku sadar, saat ini dia telah memiliki kekasih. Seluruh perhatiannya pasti untuk kekasihnya, bukan aku, temannya.
Keadaanku dengannya benar-benar membaik setelah National Exam . akupun mulai melupakan masalah ia dan kekasihnya itu. Biarkanlah mereka bahagia, aku mencoba ikhlas #padahalsakit. Hehe.
Pada saat pengumuman kelulusan aku telah membuat janji dengannya untuk dapat berbicara berdua, hanya berdua. Tapi aku tau itu bukanlah hal mudah untuk dilakukan lagi. Aku menghargai kekasihnya. Saat acara corat-coret aku tak dapat menemukan celah untuk dapat berbicara berdua dengannya. So crowed there. And finally, we’ve got the deal time. Saat di rumah aku telah merancang ingin mengatakan semua yang ingin kukatakan, tapi saat eksekusi hasilnya jauh berbeda dari apa yang ku harapkan.
Me : kalo kamu mau tau cowo yang aku suka, cowo itu sebenernya kamu.
Him : iya, aku udah tau kok.
Me : |JLEB | tau dari mana ?
Him : darii Rxxxxxx ... dia keceplosan kayanya.
Yaa , sahabatku yang satu itu memang type orang yang ceplas-ceplos. Akhirnya apa yang ingin aku katakan hilaaang semua dari otakku. Aku bingung apa yang harus aku katakan. Responnya tak sesuai bayanganku.
Him : kenapa bisa suka sama aku?
Me : gaa tau . tapi yang jelas, cowok yang aku suka (sayang) pake hati cuma kamu sama first love aku itu .
Him : kenapa ga bilang daridulu ? sekarang mah udah telat.
Me : daridulu aku emang mau ngomongnya saat kelulusan .
Kamu mau tau kenapa aku baru ngomong saat kelulusan ? karena aku gak mau nantinya kamu jauhin aku. Aku sayang sama kamu gak cuma dalam hal perasaan tapi aku juga sayang sama aku karena kamu teman aku, teman dekat aku. Aku tak pernah ingin kehilangan teman dekatku hanya karena special feeling yang kurasakan untuknya. Aku belajar untuk tidak menyalahkannya tentang apa yang kurasa, sakit dan lelah. Karena ini semua adalah kesalahan yang ku perbuat karena aku tak pernah memberitahunya bahwa aku lelah dengan semua cerita para wanitamu dan aku menyanyangimu. Yaa, aku tidak menyukaimu, tapi aku menyayangimu.
- ini beberapa foto kami yang sempet terekam camera paparazzi. sengaja mukanya dia gue blur, takut Zac Efron jealous :)
Saat aku menulis ini, waktu telah memasukin tahun 2012. It’s almost been a year. But I still miss him so much. Saat aku mengunjungi sekolahku, yang pertama ingin ku lihat adalah tempat duduk depan kelas yang dulu sering kujadikan tempat bercerita dengannya. Aku memang wanita terbodah yang pernah ada, karena aku mengingat masa lalu yang sebenarnya tidak penting untuk diingat. Aku yakin, jika dia membaca tulisan ini pasti dia berkata “inikah udah lama banget. Kenapa harus diinget-inget dan di publish. Kita tetap temen kan At ?” . Aku tipikal orang yang sulit untuk move on. I hate myself when I was thinking of you. It’s totally hurt. But I can’t control it well. I miss when he was sitting next to me. I miss when his eyes stared at me. I miss when he asked me to pray. Aku memang sudah tidak menyanyanginya seperti dulu, rasa itu perlahan mulai pudar walaupun masih banyak membekas. Tapi aku tetap menyayanginya sebagai teman yang pernah menghiasi hari-hariku J
PS : Don’t ever forget me ! kau berhutang untuk mentraktirku makan J
With love,


0 comments:
Post a Comment